PDA

View Full Version : Pss sleman...super eljaku...forever!!



sekum
25-07-2008, 09:14 AM
Mencoba memperkenalkan sepakbola sleman...walaupun cuma dikota kecil..tapi NYALI tidak!!..SUPER ELJA...siap menyongsong liga utama(Semoga besok promosi keliga Super)....yang ingin bergabung untuk memberi masukan buat PSS disini aja ya...HIDUP PSS foRZA SLEMANIA

SEJARAH : SEJARAH SINGKAT PERJALANAN TEAM HIJAU PSS MENUJU SEPAKBOLA NASIONAL

SUDAH lama dan berpanjang lebar orang membicarakan bagaimana sebuah permainan sepakbola bisa baik, berkualitas tinggi. Bahkan, dalam konteks nasional, Indonesia pernah kebingungan mencari jawaban itu. Berbagai pelatih atau instruktur didatangkan dari Brasil, Jerman, Belanda dan sebagainya. Namun, toh sepakbola Indonesia tak pernah memuaskan, bahkan tekesan mengalami kemunduran.

Dari pengalaman upaya Tim Nasional Indonesia untuk membangun sebuah permainan sepakbola yang baik itu, sebenarnya ada kesimpulan yang bisa diambil. Kesimpulan itu adalah, selama ini Indonesia hanya mencoba mengkarbit kemampuan sepakbolanya dengan mendatangkan pelatih berkelas dari luar negeri. Indonesia tidak pernah membangun kultur atau budaya sepakbola secara baik. Dengan kata lain, upaya PSSI selama ini lebih membuat produk instan daripada membangun kultur dimaksud.

Pelatih berkualitas, teori dan teknik sebenarnya bukan barang sulit untuk dimiliki. Elemen-elemen itu ada dalam textbook, atau bahkan sudah di luar kepala seiring dengan meluasnya popularitas sepakbola. Indonesia termasuk gudangnya komentator. Bahkan, seorang abang becak pun bisa berbicara tentang sepakbola secara teoritis dan analitis.

Sebab itu, seperti halnya sebuah kehidupan, sepakbola membutuhkan kultur. Artinya, sepakbola harus menjadi kebiasaan atau tradisi yang melibatkan daya upaya, hasrat jiwa, interaksi berbagai unsur dan berproses secara wajar dan jujur, bertahap dan hidup.

Untuk membangun kultur sepakbola itu, jawaban terbaik adalah membangun kompetisi yang baik pula. Lewat kompetisi, tradisi sepakbola lengkap dengan segala elemennya akan berproses dan berkembang ke arah yang lebih baik. Akan lebih baik lagi kompetisi itu terbangun sejak pelakunya masih kecil, tanpa rekayasa dan manipulasi. Pada gilirannya, tradisi itu akan melahirkan sebuah permainan indah dan berkualitas, serta memiliki bentuk dan ciri khasnya tersendiri. Itu sebabnya, kenapa sepakbola Brasil, Belanda, Inggris, Jerman dan Italia tidak hanya berkualitas, tapi juga punya gaya khasnya sendiri- sendiri.

Dalam konteks kecil dan lokal, Persatuan Sepakbola Sleman (PSS), sadar atau tidak, sebenarnya telah membangun sebuah kultur sepakbolanya melalui kompetisi lokal yang rutin, disiplin dan bergairah. Berdiri tahun 1976, PSS termasuk perserikatan yang muda jika dibandingkan dengan PSIM Yogyakarta, Persis Solo, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, PSMS Medan, Persija dan lainnya.

Namun, meski muda, PSS mampu membangun kompetisi sepakbola secara disiplin, rutin dan ketat sejak pertengahan tahun 1980-an. Kompetisi itu tak bernah terhenti sampai saat ini. Sebuah konsistensi yang luar biasa. Bahkan, kompetisi lokal PSS kini dinilai terbaik dan paling konsisten di Indonesia. Apalagi, kompetisi yang dijalankan melibatkan semua divisi, baik divisi utama, divisi I maupun divisi II. Bahkan, pernah PSS juga menggelar kompetisi divisi IIA.

Maka, tak pelak lagi, PSS kemudian memiliki sebuah kultur sepakbola yang baik. Minimal, di Sleman telah terbangun sebuah tradisi sepakbola yang meluas dan mengakar dari segala kelas. Pada gilirannya, tak menutup kemungkinan jika suatu saat PSS mampu menyuguhkan permainan fenomenal dan khas.

Ini prestasi luar biasa bagi sebuah kota kecil yang berada di bawah bayang-bayang Yogyakarta ini. Di Sleman tak ada sponsor besar, atau perusahaan-perusahaan raksasa yang bisa dimanfaatkan donasinya untuk mengembangkan sepakbola. Kompetisi itu lebih berawal dari kecintaan sepakbola, tekad, hasrat, motivasi dan kemauan yang tinggi. Semangat seluruh unsur #penonton, pemain, pelatih, pengurus dan pembina #terlihat begitu tinggi.

Meski belum optimal, PSS akhirnya menuai hasil dari tradisi sepakbola mereka. Setidaknya, PSS sudah melahirkan pemain nasional Seto Nurdiantoro. Sebuah prestasi langka bagi DIY. Terakhir, pemain nasional dari DIY adalah kiper Siswadi Gancis. Itupun ia menjadi cadangan Hermansyah. Yang lebih memuaskan, pada kompetisi tahun 1999/2000, PSS berhasil masuk jajaran elit Divisi Utama Liga Indonesia (LI).

Perjalanan PSS yang membanggakan itu bukan hal yang mudah. Meski lambat, perjalanan itu terlihat mantap dan meyakinkan. Sebelumnya, pada kompetisi tahun 1990-an, PSS masih berada di Divisi II. Tapi, secara perlahan PSS bergerak dengan mantap. Pada kompetisi tahun 1995/96, tim ini berhasil masuk Divisi I, setelah melewati perjuangan berat di kompetisi-kompetisi sebelumnya.

Dengan kata lain, PSS mengorbit di Divisi Utama LI bukan karena karbitan. Ia melewatinya dengan proses panjang. Kasus PSS menjadi contoh betapa sebuah kulturisasi sepakbola akan lebih menghasilkan prestasi yang mantap daripada produk instan yang mengandalkan ketebalan duit.

Dan memang benar, setelah bertanding di kompetisi Divisi Utama, PSS bukanlah pendatang baru yang mudah dijadikan bulan- bulanan oleh tim-tim elit. Padahal, di Divisi Utama, PSS tetap menyertakan pemain produk kompetisi lokalnya. Mereka adalah M Iksan, Slamet Riyadi, Anshori, Fajar Listiantoro dan M Muslih. Bahkan, M Ikhsan, Slamet Riyadi dan Anshori merupakan pemain berpengaruh dalam tim.

Pada penampilan perdananya, PSS langsung mengagetkan insan sepakbola Indonesia. Di luar dugaan, PSS menundukkan tim elit bergelimang uang, Pelita Solo 2-1.

Bahkan, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono sendiri yang saat itu berada di Brunei Darussalam dalam rangka promosi wisata juga kaget. Kepada Bupati Sleman Ibnu Subianto yang mengikutinya, Sri Sultan mengatakan, "Ing atase cah Sleman sing ireng-ireng biso ngalahke Pelita." Artinya, anak-anak Sleman yang hitam-hitam itu (analog orang desa) kok bisa mengalahkan tim elit Pelita Solo.

Saat itu, Ibnu Subianto menjawab, "Biar hitam nggak apa- apa tho pak, karena bupatinya juga hitam." Ini sebuah gambaran betapa prestasi PSS memang mengagetkan. Bahkan, gubernur sendiri kaget oleh prestasi anak-anaknya. Akan lebih mengagetkan lagi, jika Sri Sultan tahu proses pertandingan itu. Sebelum menang, PSS sempat ketinggalan 0-1 lebih dulu. Hasil ini menunjukkan betapa permainan PSS memiliki kemampuan dan semangat tinggi, sehingga tak minder oleh tim elit dan tak putus asa hanya karena ketinggalan. Berikutnya, tim cukup tua Gelora Dewata menjadi korbannya. Bahkan, di klasemen sementara, PSS sempat bertengger di urutan pertama.

Ketika tampil di kandang lawan, Malang United dan Barito Putra, PSS juga tak bermain cengeng. Bahkan, meski akhirnya kalah, PSS membuat tuan rumah selalu was-was. Sehingga, kekalahan itu tetap menjadi catatan mengesankan. Maka, tak heran debut PSS itu kemudian menjadi perhatian banyak orang. Hanya dalam sekejap, PSS sudah menjadi tim yang ditakuti, meski tanpa bintang.

Pembinaan sepakbola ala PSS ini akan lebih tahan banting. Sebab itu, terlalu berlebihan jika menilai PSS bakal numpang lewat di Divisi Utama.

Dengan memiliki tradisi sepakbola yang mantap dan mapan, tak menutup kemungkinan jika PSS akan memiliki kualitas sepakbola yang tinggi. Bahkan, bukan hal mustahil jika suatu saat PSS bisa juara LI.

Apa yang terjadi di Sleman sebenarnya mirip dengan yang terjadi di Bandung dengan Persib-nya dan di Surabaya dengan Persebaya-nya. Di kedua kota itu, kompetisi lokal juga berjalan dengan baik, bahkan sepakbola antarkampung (tarkam) pun kelewat banyak. Maka tak heran jika sepakbola di Bandung dan Surabaya sangat tangguh dan memiliki ciri khas tersendiri. Oleh karena itu, jika tradisi sepakbola di Sleman bisa dipertahankan bahkan dikembangkan, tak menutup kemungkinan PSS akan memiliki nama besar seperti halnya Persib atau Persebaya. Semoga!

sekum
25-07-2008, 09:16 AM
(24 July 2008)
Akhirnya setelah sekian lama dinantikan oleh kawan-kawan Slemania, perhelatan Divisi Utama siap digeber. Tepat pukul 00.00 WIB BLI meluncurkan jadwal kompetisi Divisi Utama tahun 2008.
PSS Sleman yang berada di wilayah timur (group II) akan memulai laga pada tanggal 7 Agustus 2008 dengan melakukan lawatan untuk menantang tuan rumah Persiku Kudus. Setelah itu PSS akan menjalani satu partai away lagi melawan PSIR Rembang pada tanggal 11 Agustus 2008.

Setelah 2 partai away PSS melakoni 4 partai kandang dengan menjamu Perseman, Persebaya, Persiba Bantul, PSIM Yogyakarta
Coach Yudi ketika dikonfirmasi mengenai jadwal yang sudah dikeluarkan oleh BLI tidak mau berkomentar banyak. "Kami ngikut saja, kalaupun harus bermain away, saya sebagai pelatih tidak ada masalah. Saya saat ini sedang berkonsentrasi untuk pembentukan tim", ujarnya.

sekum
25-07-2008, 09:25 AM
--
Yudi Suryata
Pelatih Kepala

Maman Durrachman
Asisten Pelatih

M. Susanto
Pelatih Kiper

Lafran Pribadi
Asisten Pelatih


02
Fahrudin (19)
Stopper

03
Nur Kholiq (29)
Beck

04
Agus Supriyatno (30)
Gelandang

06
Abda Ali (29)
Stopper

07
Jaenal Ichwan (31)
Penyerang

08
Agung Yudha (28)
stoper

10
Angel Alfredo (28)
Gelandang

11
Slamet Nurcahyo (25)
Gelandang

12
Busari (21)
gelandang

12
Ruly Yasin (27)
Penjaga Gawang

13
Anton Hermawan (33)
Gelandang

15
Bambang Sulistyo (29)
Beck

16
Faharuddin (25)
Gelandang

17
Edi "Sibung" Guntoro (26)
Beck

18
M. Yusuf (27)
Beck

21
Dicky Gautama (27)
Penyerang

22
Agung Prasetyo (20)
Penjaga Gawang

23
Agus Purwoko (23)
Gelandang

25
Wawan Triono (23)
Beck

27
Sahari Gultom (31)
Penjaga Gawang

31
Akhmad Widiyanto (31)
Gelandang

32
Lipede Peter Rotimi (23)
Beck

Djamad (44)
Masseur

dr.M.Arif Yuli Wibowo (0)
Dokter Tim

Ethuang
19-08-2008, 07:46 AM
berita seputar hasil pertandingan kandang vs Persebaya, gw post ulang dr thread Persebaya ;)

Green Force Menuju Puncak



1 PSS v Persebaya 1

SLEMAN - PersebayaSurabayamelalui laga perdana dengan start buruk. Bertanding di kandang, Gelora 10 Nopember, waktu itu Persebaya kalah dari Persibo Bojonegoro. Tapi, kini tim asal Kota Pahlawan tersebut berada di puncak klasemen Divisi Utama Liga Indonesia (Ligina) 2008/2009.

Bertanding melawan PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo, Persebaya memetik hasil imbang 1-1 (0-0). Bagi Persebaya, meski hanya membawa pulang satu poin, hasil itu sudah cukup untuk menggusur Persiba Bantul dari puncak klasemen sementara Wilayah Timur.

Sebelum laga PSS versus Persebaya berlangsung, Persiba berada di puncak klasemen dengan tujuh poin, hasil dua kali menang dan sekali imbang. Poin Persiba tersebut sama dengan Persebaya. Bedanya, gol yang diceploskan Persebaya lebih banyak.

Secara statistik, pertandingan antara PSS melawan Persebaya berjalan imbang. Pada babak pertama, Green Force (julukan Persebaya) dan tuan rumah memiliki tiga peluang emas di depan gawang.

Namun, hingga turun minum tidak ada gol yang bersarang di gawang kedua tim. Memasuki babak kedua, Persebaya lebih dulu mengambil inisiatif serangan. Akhirnya, pada menit ke-59, strikerBrazil Jairon Feliciano mencetak gol pemecah kebuntuan.

Tertinggal satu gol membuat PSS tampil menggila. Mereka tentu saja tidak ingin dipermalukan di hadapan 15 ribu pendukung fanatiknya, Slemania. PSS langsung meningkatkan tempo permainan.

Permainan cepat PSS yang dikomando Alfredo Vera (Cile) membuat pertahanan Persebaya kerepotan. Berkali-kali Bobby Satria, Bejo Sugiantoro, dan Anderson da Silva harus berjibaku menahan gempuran tuan rumah.

Bermula dari pelanggaran yang melibatkan Bobby Satria dan Alfredo, pemain PSS mampu memanfaatkan kelengahan Persebaya. Dampaknya, Ricardo Diaz yang berdiri bebas mampu menjebol gawang Endra Prasetya pada menit ke-77.


jawapos

sekum
21-08-2008, 07:51 PM
Selamat buat persebaya berhasil menahan imbang PSS...tunggu kami di Surabaya..selamat buat jairon..gak jadi di pecat karena sudah ngegolin...:D:D:D