mahasiswa72
14-07-2008, 07:00 PM
JAKARTA - Sepak bola Indonesia kembali kehilangan tokoh terbaiknya. Setelah ditinggalkan Endang Witarsah tiga bulan lalu, kini sepak bola Indonesia harus melepas kepergian Iswadi Idris. Tadi malam pukul 20.20, mantan bintang Tim Nasional (Timnas) Indonesia itu tutup usia.
Iswadi meninggal di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (MMC), Kuningan, Jakarta Selatan, akibat stroke. Pria yang terakhir menjabat tim monitoring Badan Tim Nasional (BTN) itu meninggal pada usia 60 tahun. Bintang PSSI 1960-1970 itu meninggalkan seorang istri dan tiga anak. ''Kepergian Iswadi jelas kehilangan besar bagi sepak bola Indonesia. Sebab, tidak hanya berprestasi, dia juga sangat konsen terhadap pengembangan pemain muda,'' ungkap Rahim Soekasah, ketua BTN.
Dia tentu tidak asal memuji. Sebelum jatuh sakit pada Selasa (8/7) malam, Iswadi sempat mendampingi latihan Timnas U-16. Menurut Rahim, Rabu (9/7), Iswadi bahkan hendak ke Samarinda. Tujuannya, mencari bakat-bakat pemain muda di PON untuk direkrut ke Timnas U-23.
''Karena itu, saya sempat kaget begitu dikabari Iswadi masuk rumah sakit. Atas nama pribadi dan PSSI, saya menyampaikan turut berduka cita atas kepergian Iswadi. Semoga cita-citanya untuk membangun sepak bola Indonesia bisa kami lanjutkan,'' kata Rahim.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, Iswadi sempat dirawat di Rumah Sakit MMC selama tiga hari. Kemarin siang, Jawa Pos sempat menjenguk. Saat itu, Jawa Pos ditemui anak pertama Iswadi, Kusuma Ayu Kinanti.
Ayu menjelaskan, sakit itu diderita ayahnya pada Selasa (8/7) malam ketika baru santai di rumah. Saat itu, Iswadi berusaha mencoba mengecilkan kipas angin, tapi terjatuh. ''Saya kurang jelas apakah tersandung karpet atau kakinya sendiri. Ayah tidak sampai jatuh. Dia bisa menahan dengan tangan, tapi tidak bisa berdiri lagi,'' jelas wanita kelahiran 1983 itu.
Sebelum diboyong ke MMC, Iswadi sempat dilarikan ke RS DMC, Buncit, Jakarta Selatan. Tapi, karena kesadarannya semakin lemah, dia akhirnya dirujuk ke MMC pada Rabu (9/7) pagi. ''Karena peralatannya lebih lengkap tentunya. Di sini kan juga ada CTscan,'' ujar salah seorang pentolan Slemania (kelompok suporter pendukung PSS Sleman) tersebut. Jenazah Iswadi rencananya dimakamkan di TPU Karet, Jakarta, siang ini.
Pada masa kejayaannya, siapa yang tidak kenal nama Iswadi Idris. Bersama Sutjipto Suntoro, Jacob Sihasale, dan Abdul Kadir, bintang yang memakai nomor punggung 13 itu mengharumkan nama Timnas Indonesia di Asia. Bahkan, Indonesia sempat dijuluki Macan Asia.
Iswadi akrab dipanggil dengan sebutan si Boncel. Kendati bertubuh mungil, dia adalah pemain serbabisa. Hingga akhir hayatnya, Iswadi mungkin tidak akan lupa atas kegagalannya membobol gawang mantan kiper terbaik dunia, Lev Yashin. Ketika itu, Indonesia menjamu Dynamo Moscow dalam partai uji coba di Senayan.
Mengawali karir sebagai bek kanan, Boncel sering dipasang sebagai gelandang kanan. Pada pengujung karirnya di timnas era '80, dia dipasang sebagai sweeper. Iswadi memiliki visi permainan bagus serta memiliki kemampuan memimpin rekan-rekannya. Dia pun menjadi kapten timnas sejak awal 1970 sampai 1980.
Setelah gantung sepatu, Iswadi yang dilahirkan pada 18 Maret 1948 itu pernah melatih di Klub Galatama Perkesa '78 dan timnas nasional pra-Olimpiade 1988. Dia juga pernah menjabat direktur Kompetisi dan Turnamen PSSI serta anggota Komisi Disiplin PSSI.
Tak hanya moncer di lapangan, Iswadi juga lihai menumpahkan ide-idenya dalam tulisan. Saat perhelatan Piala Dunia 1986 di Meksiko, pemain terbaik Piala Marahalim 1973 itu pernah menjadi redaktur khusus di koran ini. Selamat jalan Iswadi Idris.
Iswadi meninggal di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (MMC), Kuningan, Jakarta Selatan, akibat stroke. Pria yang terakhir menjabat tim monitoring Badan Tim Nasional (BTN) itu meninggal pada usia 60 tahun. Bintang PSSI 1960-1970 itu meninggalkan seorang istri dan tiga anak. ''Kepergian Iswadi jelas kehilangan besar bagi sepak bola Indonesia. Sebab, tidak hanya berprestasi, dia juga sangat konsen terhadap pengembangan pemain muda,'' ungkap Rahim Soekasah, ketua BTN.
Dia tentu tidak asal memuji. Sebelum jatuh sakit pada Selasa (8/7) malam, Iswadi sempat mendampingi latihan Timnas U-16. Menurut Rahim, Rabu (9/7), Iswadi bahkan hendak ke Samarinda. Tujuannya, mencari bakat-bakat pemain muda di PON untuk direkrut ke Timnas U-23.
''Karena itu, saya sempat kaget begitu dikabari Iswadi masuk rumah sakit. Atas nama pribadi dan PSSI, saya menyampaikan turut berduka cita atas kepergian Iswadi. Semoga cita-citanya untuk membangun sepak bola Indonesia bisa kami lanjutkan,'' kata Rahim.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, Iswadi sempat dirawat di Rumah Sakit MMC selama tiga hari. Kemarin siang, Jawa Pos sempat menjenguk. Saat itu, Jawa Pos ditemui anak pertama Iswadi, Kusuma Ayu Kinanti.
Ayu menjelaskan, sakit itu diderita ayahnya pada Selasa (8/7) malam ketika baru santai di rumah. Saat itu, Iswadi berusaha mencoba mengecilkan kipas angin, tapi terjatuh. ''Saya kurang jelas apakah tersandung karpet atau kakinya sendiri. Ayah tidak sampai jatuh. Dia bisa menahan dengan tangan, tapi tidak bisa berdiri lagi,'' jelas wanita kelahiran 1983 itu.
Sebelum diboyong ke MMC, Iswadi sempat dilarikan ke RS DMC, Buncit, Jakarta Selatan. Tapi, karena kesadarannya semakin lemah, dia akhirnya dirujuk ke MMC pada Rabu (9/7) pagi. ''Karena peralatannya lebih lengkap tentunya. Di sini kan juga ada CTscan,'' ujar salah seorang pentolan Slemania (kelompok suporter pendukung PSS Sleman) tersebut. Jenazah Iswadi rencananya dimakamkan di TPU Karet, Jakarta, siang ini.
Pada masa kejayaannya, siapa yang tidak kenal nama Iswadi Idris. Bersama Sutjipto Suntoro, Jacob Sihasale, dan Abdul Kadir, bintang yang memakai nomor punggung 13 itu mengharumkan nama Timnas Indonesia di Asia. Bahkan, Indonesia sempat dijuluki Macan Asia.
Iswadi akrab dipanggil dengan sebutan si Boncel. Kendati bertubuh mungil, dia adalah pemain serbabisa. Hingga akhir hayatnya, Iswadi mungkin tidak akan lupa atas kegagalannya membobol gawang mantan kiper terbaik dunia, Lev Yashin. Ketika itu, Indonesia menjamu Dynamo Moscow dalam partai uji coba di Senayan.
Mengawali karir sebagai bek kanan, Boncel sering dipasang sebagai gelandang kanan. Pada pengujung karirnya di timnas era '80, dia dipasang sebagai sweeper. Iswadi memiliki visi permainan bagus serta memiliki kemampuan memimpin rekan-rekannya. Dia pun menjadi kapten timnas sejak awal 1970 sampai 1980.
Setelah gantung sepatu, Iswadi yang dilahirkan pada 18 Maret 1948 itu pernah melatih di Klub Galatama Perkesa '78 dan timnas nasional pra-Olimpiade 1988. Dia juga pernah menjabat direktur Kompetisi dan Turnamen PSSI serta anggota Komisi Disiplin PSSI.
Tak hanya moncer di lapangan, Iswadi juga lihai menumpahkan ide-idenya dalam tulisan. Saat perhelatan Piala Dunia 1986 di Meksiko, pemain terbaik Piala Marahalim 1973 itu pernah menjadi redaktur khusus di koran ini. Selamat jalan Iswadi Idris.