haryo sabri
25-09-2007, 11:11 PM
Nasi Tumpeng dan Mitos Pantai Prigi.
http://server2.piload.com/thumbs/show/miyde3mzvjzwom1g0jj2.jpg (http://server2.piload.com/viewer.php?file=miyde3mzvjzwom1g0jj2.jpg)
Pantai Prigi terletak 45 km, Tenggara kota Trenggalek, Jawa Timur. sebagai tempat wisata sekaligus pelabuhan ikan yang masih aktif menjadikan pantai itu terasa berbeda, jika sedang diadakan upacara sesaji larung “ Sembonyo”.
Tak cuma komunitas nelayan yang bisa diakrabi di pantai Prigi. di tempat ini hidup pula mitos Ratu Pantai Selatan (Nyi Loro Kidul), sehingga pengunjung disarankan untuk tidak mengnakan pakaian berwarna tertentu saat berada disana. Kemudian ada pula legenda bercampur mitos yang terkait dengan keberadaan tempat ini.
Alkisah ketika rezeki tertumpa, saat itu pula rasa syukur seharusnya dipanjatkan kepada sang pemberkah. Keyakinan itulah yang membuat nelayan di pantai Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten trenggalek, Jawa Timur (Jatim) melestarikan upacara tradisional yang disebut Larung Sembonyo.
Upacara adat ini harus digelar pada bulan besar atau Selo dan minggu kliwon dalam penanggalan jawa. selain ungkapan syukur pada Tuhan, acara ini juga sekaligus sebagai peringatan pernikahan Raden Tumenggung Yudha Negara, seorang kepala prajurit kerajaan Mataram, dengan putri Gambar Inten, salah satu putri Adipati Andong Biru.
Tumenggung Yudha Negara adalah tokoh yang berhasil membuka wilayah Prigi. Tumenggung yang benama asli Raden Kramadipa itu adalah kepala prajurit yang ditugaskan Raja Mataram untuk memperluas wilayahnya di pesisir Selatan Jawa. Lahan yang harus di buka Teluk Pacitan hingga Banyuwangi.
Ketika itu salah satu syarat keberhasilan Yudha Negara adalah bila ia mau menikahi putri Gambar Inten. Singkat cerita, Andong Biru sangat berbahagia ketika Yudha Negara bersedia menikah denagn Gambar Inten. Pesta perkawinan digelar pada hari senin kliwon di bulan besar. Untuk kepentingan pariwisata, haris enin diganti minggu, sedangkan kliwonnya tetap.
Melalui pesta pernikahan itulah Yudha Negara secara resmi menamai tempat tersebut Prigi. Kemudian hari pernikahan diminta diperingati setiap tahun dengan upacara sedekah laut bernama Sembonyo, dengan dimeriahkan tarian Tayub/ Jogedan.
Puncak upacara tradisional Larung Sembonyi ini dengan menceburkan sebuah tumpeng nasi kuning berukuran besar ke laut Selatan Jawa alias Samudra Indonesia. Sebelumnya tetua adapt, semuanaya mengenakan pakaian adat Jawa sambil memanjatkan doa, dihadapan mereka terdapat bakaran kemenyan yang ditancapkan diatas pasir.
Kemudian sebuah perahu nelayan mengantarkan tumpeng raksasa setinggi sekitar satu setengah meter, beserta sesajian lain, ke tengah laut. Ribuan warga Trenggalek, terutama masyarakat nelayan Prigi, serta watulimo dan sekitarnya, menyaksikan dibawahnya "gunungan nasi" yang lebih akrab dinamakan Nasi Tumpeng....
http://server2.piload.com/thumbs/show/miyde3mzvjzwom1g0jj2.jpg (http://server2.piload.com/viewer.php?file=miyde3mzvjzwom1g0jj2.jpg)
Pantai Prigi terletak 45 km, Tenggara kota Trenggalek, Jawa Timur. sebagai tempat wisata sekaligus pelabuhan ikan yang masih aktif menjadikan pantai itu terasa berbeda, jika sedang diadakan upacara sesaji larung “ Sembonyo”.
Tak cuma komunitas nelayan yang bisa diakrabi di pantai Prigi. di tempat ini hidup pula mitos Ratu Pantai Selatan (Nyi Loro Kidul), sehingga pengunjung disarankan untuk tidak mengnakan pakaian berwarna tertentu saat berada disana. Kemudian ada pula legenda bercampur mitos yang terkait dengan keberadaan tempat ini.
Alkisah ketika rezeki tertumpa, saat itu pula rasa syukur seharusnya dipanjatkan kepada sang pemberkah. Keyakinan itulah yang membuat nelayan di pantai Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten trenggalek, Jawa Timur (Jatim) melestarikan upacara tradisional yang disebut Larung Sembonyo.
Upacara adat ini harus digelar pada bulan besar atau Selo dan minggu kliwon dalam penanggalan jawa. selain ungkapan syukur pada Tuhan, acara ini juga sekaligus sebagai peringatan pernikahan Raden Tumenggung Yudha Negara, seorang kepala prajurit kerajaan Mataram, dengan putri Gambar Inten, salah satu putri Adipati Andong Biru.
Tumenggung Yudha Negara adalah tokoh yang berhasil membuka wilayah Prigi. Tumenggung yang benama asli Raden Kramadipa itu adalah kepala prajurit yang ditugaskan Raja Mataram untuk memperluas wilayahnya di pesisir Selatan Jawa. Lahan yang harus di buka Teluk Pacitan hingga Banyuwangi.
Ketika itu salah satu syarat keberhasilan Yudha Negara adalah bila ia mau menikahi putri Gambar Inten. Singkat cerita, Andong Biru sangat berbahagia ketika Yudha Negara bersedia menikah denagn Gambar Inten. Pesta perkawinan digelar pada hari senin kliwon di bulan besar. Untuk kepentingan pariwisata, haris enin diganti minggu, sedangkan kliwonnya tetap.
Melalui pesta pernikahan itulah Yudha Negara secara resmi menamai tempat tersebut Prigi. Kemudian hari pernikahan diminta diperingati setiap tahun dengan upacara sedekah laut bernama Sembonyo, dengan dimeriahkan tarian Tayub/ Jogedan.
Puncak upacara tradisional Larung Sembonyi ini dengan menceburkan sebuah tumpeng nasi kuning berukuran besar ke laut Selatan Jawa alias Samudra Indonesia. Sebelumnya tetua adapt, semuanaya mengenakan pakaian adat Jawa sambil memanjatkan doa, dihadapan mereka terdapat bakaran kemenyan yang ditancapkan diatas pasir.
Kemudian sebuah perahu nelayan mengantarkan tumpeng raksasa setinggi sekitar satu setengah meter, beserta sesajian lain, ke tengah laut. Ribuan warga Trenggalek, terutama masyarakat nelayan Prigi, serta watulimo dan sekitarnya, menyaksikan dibawahnya "gunungan nasi" yang lebih akrab dinamakan Nasi Tumpeng....